Tiara Handicraft dan Kisah Cinta Pekerja Difabel

152

Solider.id, Surabaya- Dalam berbisnis, untung dan rugi selalu menjadi pertimbangan pengusaha. Terutama untuk menjaga kepercayaan konsumen pada kualitas produk yang mereka jual.

Pada saat membeli suatu produk, konsumen tidak akan bertanya, siapa yang membuat, tapi melihat kualitas dari produk tersebut. Begitulah pemikiran yang coba dipegang oleh Tiara Handicraft dalam menjalankan usahanya.

Jumat pagi, perumahan yang terletak di Jl. Sidosermo Indah II No. 5 Wonocolo, Surabaya masih tampak lengang. Dengan mengendarai motor, saya menyusuri perumahan dan berhenti di depan rumah berpagar oranye dengan tulisan ‘Tiara Handicraft’, yang menggantung di atas pagar. Beberapa sepeda sudah tertata rapi di depan gerbang.

Memasuki ruang depan, di sisi kiri pintu, ada bufet yang memanjang. Di sana, terpajang berbagai penghargaan yang diraih oleh Titik Winarti, pendiri Tiara Handicraft. Mulai dari Penghargaan Hipenca Tahun 2005 oleh Menteri Sosial Republik Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan atas kepeduliannya dalam memberi kesempatan yang sama untuk teman disabilitas. Pembicara pada lokakarya kewirausahaan Sikap perempuan menjawab tantangan bisnis pada2010, Penghargaan sebagai pembicara dalam acara Lecture Gathering Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana pada 2016.

Dari cerita Rizal, Operational Manager sekaligus anak bungsu Titik, Tiara Handicraft sudah dirintis Titik sejak 1995. Bermula dari hobi membuat aksesoris untuk perlengkapan rumah tangga, seperti toples, tudung saji, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, Titik mulai membaca peluang bisnis dari produk handicraft yang ia buat. Sekitar satu tahun setelah Tiara Handicraft berdiri, Yuda, suami Titik, memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya di mebel kayu. Yuda memilih  untuk bergabung ke Tiara Handicraft.

Selang beberapa waktu, Tiara Handicraft mulai memasuki pasar komunitas dan mencoba menjual prodaknya di market-market Denpasar. Mereka memilih Denpasar karena kota itu  dirasa sebagai salah satu kota yang mendominasi pasar pengrajin. Sejak saat itu penggemar handicraft buatannya tidak hanya pelanggan domestik, tapi juga luar negeri.

Upaya memasarkan produk handicraftnya di Denpasar, Titik bertemu pelanggan asing dari Brazil yang mencoba menantang talenta mereka. Pelanggan tersebut menyarankan untuk membuat suatu produk kerajinan yang beda, yakni membuat handicraft tas.

Ternyata, pelanggan Surabaya juga menyambut baik produk tersebut. Setelah itu produk Tiara Handicraft mulai beralih ke olah tekstil, seperti tas dan dompet. Meskipun beberapa pesanan produk rumah tangga masih diterima, mereka mulai memfokuskan produk usaha ke olah tekstil.

Pada 1999 Indonesia mengalami krisis moneter. Dolar dan bahan makanan naik, kerusuhan terjadi di mana-mana. Kebetulan pekerja yang ada di Tiara, mayoritas berasal dari luar surabaya. Karena mereka merasa khawatir dengan keluarga yang di rumah, begitu pun sebaliknya. Banyak dari mereka yang memutuskan untuk pulang dan tidak kembali ke Surabaya sebelum keadaan stabil. Sementara pesanan terus ada, sedangkan sumber daya manusianya tidak ada.

“Akhirnya kita putuskan tutup saja , tahun1999.  Udah mau jual aset, temennya bu Titik  bertanya, kenapa kok ditutup? Menyarankan dari pada ditutup, eman sudah berjalan satu tahun, gimana kalau mencoba hal baru dengan kerjasama disabel,” tutur Rizal.

Berawal dari saran Sardoyo, seorang difabel yang juga salah satu teman Titik, pada 1999 Tiara Handicraft mulai mempekerjakan teman difabel. Meski di awal sedikit ragu, akhirnya Titik dan Yuda memutuskan mencoba mempekerjakan dua difabel untuk membantu memenuhi pesanan produksi dari konsumen.

Ada difabel daksa (tangan) dan difabel daksa (kaki) yang sudah memiliki kemampuan dasar menjahit.  Setelah mendapat pelatihan di Tiara Handicraft, keduanya mulai menunjukkan kemajuan. Titik dan Yuda melalui kedua pekerjanya meminta mereka untuk menghubungi komunitasnya, agar bekerja di Tiara Handicraft.

“Berawal dari 2 orang itu, jadi 4 orang, 4 orang jadi  8 orang, hingga di tahun 2006 pegawai Tiara Handicraft mencapai 63 di satu rumah,” tutur Rizal “Difabel di Tiara itu, ada kecendrungan  setelah ahli, mereka tidak di Tiara, mereka keluar, cari perusahaan yang lebih besar, lebih profesional,” tambahnya.

Setelah menyadari bahwa perusahaan tidak bisa mengikat teman-teman untuk tetap bekerja di Tiara Handicraft. Terjadilah regenerasi pekerja, dimana angkatan yang lama digantikan angkatan baru. Angkatan baru menjadi angkatan lama, lalu berganti lagi.

Di setiap angkatan baru, Tiara  Handicraft harus menempa tiap individu lagi, agar produk yang dihasilkan layak produksi dan layak jual. Dari situlah, fokus Tiara Handicraft mulai berubah, dari inisiatif mempekerjakan difabel menjadi memberdayakan difabel. Dalam proses pemberdayaan di Tiara handicraft, teman difabel disediakan asrama dan makan secara gratis.

Sampai pada 2009, Keberadaan difabel di Tiara Handicraft sempat dipermasalahkan pemerintah, karena pada saat itu difabel seharusnya dinaungi oleh yayasan. Maka pada tahun itu pula, Tiara Handicraft memutuskan membentuk Yayasan Bina Karya Tiara. “Yayasan terbentuk waktu itu sebatas perlindungan hukum aja”, tutur Rizal.

Dia juga menerangkan bahwa Tiara Handicraft tidak mengajukan bantuan untuk membantu penghidupan ekonomi difabel di Tiara Handicraft.

Sedangkan untuk sistem upah yang diterima, mereka memakai sistem borong kerja. Setiap produk yang dihasilkan masing-masing pekerja akan direkapitulasi produktivitasnya setiap bulan. Hasil kerja para pekerja diakumulasikan menjadi nilai uang.

Upah mereka bervariasi, ada yang 300 ribu rupiah, 600 ribu rupiah, sampai paling tinggi ada yang bisa meraup upah 1,5 juta rupiah. Itu pun tidak tetap, mereka masih memiliki kesempatan mendapatkan upah yang lebih tinggi, tergantung kinerja mereka. Dalam produksinya, teman-teman difabel harus mengikuti standar perusahaan.

“Tuntutan di produksi saya, harus layak jual, bukan hanya layak produksi, lek gak layak jual kamu mengharap siklus yogak mungkin toAkhire modal didadekno barang,  dodolgak iso. Modal dadekno barang, dodole gak isosoale gaklayak jual,” tutur Titik (20/11).

Permasalahan ekonomi difabel, memang kerap kali selalu dikaitkan dengan sikap diskriminasi. Tapi Titik memiliki pandangan  lain terkait hal tersebut. Baginya tuntutan hak difabel di bidang pekerjaan, karena kurang mendapat tempat kerja.

“Orang ya mikir, ini bisnis, untung dan rugi. Kalau dia menuntut itu, dia harus berprilaku sebagaimana orang normal. Dia berperilaku sebagaimana orang normal, walaupun secara fisik ia ndak (red: tidak) sama,” papar Titik. Sekarang ini, Titik sendiri menjabat sebagai creative director dan Suaminya, Yuda, menjabat sebagai owner di Tiara handicraft.

Pertemuan Ucil dan Supiyah

Musim hujan di bulan Desember, kiranya tak begitu memberi dampak pada cuaca Surabaya hari ini. Terik matahari menyengat kulit, tapi tak mengurungkan niat saya mengunjungi Ahmadi atau akrab dipanggil Ucil. Ia memiliki usaha sendiri di Jl. Kandangan Surabaya yang diberi nama Kanta Handicraft.

Ucil (36), lahir di Ambulu Jember 1982. Dia anak kedua dari empat bersaudara dan satu-satunya difabel di keluarganya. Karena akses sekolahan yang terbilang jauh, dia hanya menamatkan sekolah tingkat dasar. Saat ditemui di kontrakan, dia bercerita, sebelum masuk ke Tiara Handicraft pada 2004, dia pernah belajar menjahit baju di panti difabel daksa selama setahun yang ada di Bangil. Sampai pada 2005, atas saran dari panti, Ucil pergi ke Tiara Handicraft.

“Di Tiara Handicraft 2005 akhir – 2008 akhiran,” ujar Ucil (7/12). Dari Tiara Handicraft, dia belajar banyak hal yang belum dia dapat di  panti. “Saya disitu belajar jahit tas, market, bagian pameran, bagian kalau ada tamu, tanya jawab juga, kalau ada mahasiswa,” ujarnya.

Setelah keluar dari Tiara Handicraft, Ucil memutuskan kembali ke Jember dan merintis usaha ternak lele. Alasan Ucil memilih ternak lele, karena usaha handicraft di desa dirasa sulit, sebab perputaran uang yang lambat.

Ucil merasa tidak ada perkembangan di bisnisnya, dia memutuskan kembali ke Tiara Handicraft di 2010. Tak ada yang tahu rencana tuhan, kembalinya ke Tiara Handicraft, memperkenalkannya dengan Supiyah (45), difabel daksa (kaki) yang juga bekerja di Tiara Handicraft sejak pertengahan 2011. Di pertengahan 2013 Supiyah resmi menjadi istrinya. Setelah menikah keduanya memutuskan untuk usaha mandiri dan keluar dari Tiara Handicraft.

Pada awalnya, keduanya merintis usaha handicraft di kampung halaman, Jember. Melihat usaha tak begitu lancar, dia berencana merintis di Surabaya. Melalui salah seorang teman di Surabaya, dia mendapat pekerjaan mengajar handicraft di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Banyu Urip Surabaya. Ia kontrak kerja selama 2 tahun, sekitar akhir 2013-2016.

Di sana dia disediakan tempat tinggal. Sembari mengajar dia juga menjalankan usaha handicraftnya dan memperkenalkan pada teman-teman, kalau sekarang ia sudah usaha mandiri. Rutinitas mengajar tidak begitu menyita waktu Ucil untuk menjalankan bisnis handicrafnya, seminggu dia hanya mengajar dua kali, dengan gaji 2,5 juta rupiah perbulan. Dari gaji itu ia gunakan sebagai modal usahanya.

Di 2016 ia mulai masuk central UKM (Usaha Kecil Menengah) dan mulai aktif mengikuti pameran-pameran untuk memperkenalkan produk handicraftnya. Nama Kanta Handicraft sendiri baru dipikirkan di 2015.

“Buka google, nemu kata ‘kanta’ artinya, cantik, hasrat, keinginan. Jadi keinginan kita untuk mandiri,” tutur Supiyah saat menceritakan awal mula mencetuskan nama Kanta Craft.

Saat ini Kanta Craft memproduksi tas, dompet dan menerima pesanan souvenir. Di kontrakannya sekarang ada dua mesin produksi, satu mesin manual yang dia bawa dari Jember dan satu mesin portable yang baru dibeli di 2016.

Sekarang omset Kanta Craft mencapai 15 juta perbulan, dengan uang bersih sekitar 5-6 juta. Untuk membantu produksinya, Ucil memilki dua karyawan ibu rumah tangga yang bekerja lepas di rumahnya masing-masing. Sistem gaji yang dipakai untuk karyawannya sama dengan di Tiara Handicraft yakni sistem borong kerja. “Perbulan mereka bisa dapat sampai 1,5 juta,” tutur Ucil.

Keinginan untuk memulai

Sore itu langit Surabaya terlihat mendung. Suasana di Tiara Handicraft tetap seperti biasa, semua sibuk mengerjakan pesanan handicraft. Di ruangan kedua yang sedikit menjorok dari ruang utama, ada Rizal yang sibuk menatap komputernya, Titik yang sedang merapikan tumpukan kain dan Rosyida, salah seorang pembimbing difabel di Tiara Handicraft sedang memotong kain.

Begitu pun dengan Sandi Rahmad, difabel Tuli asal Kecamatan Kandangan, Kediri. Dia tengah sibuk memotong kain untuk dijadikan dompet. Dia terbilang baru di Tiara Handicraft. Dia mulai pelatihan pada akhir Oktober 2018.

Sandi bercerita dia mendapat info Tiara Handicraft dari temannya difabel daksa. Awalnya dia membuat status facebook, kalu ia sedang butuh pekerjaan, lalu salah seorang teman di grup komuitas difabel menge-chat nya dan menyarankan untuk pergi ke Tiara Handicraft, Surabaya.

Esoknya Sandi langsung pergi ke Surabaya dengan mengendarai sepeda. Berbeda dengan teman lainnya yang memilih menetap di Tiara Handicraft, dia memilih untuk ngekos di daerah Lontar, tak jauh dari tempat Tiara Handicraft.

Sebelumnya, Sandi bekerja sebagai office boy di salah-satu perusahaan di Yogjakarta dan baru mengenal handicraft saat di Tiara. “Bisa belajar bordir, menjahit,  masang kancing, ritsleting”, ujar Sandi  saat ditanya apa saja yang telah ia pelajari di Tiara. “Uang pertama dapat 650, kemarin buat beli bensin, bb cream. Aku tiga hari sekali beli bensin, buat belanja  bulanan,” lanjutnya, diikuti tawa satu ruangan (26/11).

Dia juga cerita, bulan ini diajak Titik untuk diperbantukan mengajar pelatihan bordir di Wiss, Jl. Basuki Rahmad Malang. Sama halnya dengan Ucil, Sandi juga memiliki keinginan untuk membuka usaha sendiri jika sudah menguasai banyak kemampuan dalam berbisnis.

Sumber : https://www.solider.id/baca/4981-tiara-handicraft-kisah-cinta-pekerja-difabel

Comments are closed.